Jumat, 29 Januari 2010

Mengikis Mental Pengemis


"Mengemis", dalam maknanya yang tekstual, ia menggambarkan satu kondisi mental yang kurang bermartabat. Konotasinya jelas kurang baik. Kecuali, jika "mengemis" mengalami pemuaian makna dan dalam kontekstualisasi tertentu, misalnya "mengemis" harapan pada hidup atau pada Yang Maha Hidup.

Hari ini, potret pengemis bukan saja pada fenomena sosial yang telah menjadi sengkarut persoalan pemerintah, tetapi ia telah merambah berbagai belahan dan dimensi hidup, termasuk sudah merasuki berbagai sudut karakter dan mental masyarakat di berbagai segi.

Oknum pejabat banyak yang tidak sungkan untuk melebarkan telapak tangannya agar diselipi amplop berisi fulus, ceritanya untuk transport. Sementara orang-orang tak dikenal yang mengatasnamakan wartawan, hilir mudik ke desa-desa, sedikit seolah bertanya tentang A atau B, lalu mereka meminta ganti ongkos untuk pulang. Ini di ranah akar rumput, di pelosok yang kental dengan nuansa kompleksitas masalah sosialnya.

Sementara di atas, para elit-elit tidak sungkan untuk "menjual" dirinya demi kepentingan. Anak muda juga mahasiswa juga tak sungkan-sungkan menengadahkan tangannya kepada jaringan, patron, atau kepada abang-abangnya agar ia diberikan kemulusan jalan dalam meraup kenikmatan hidup.

Sudah sebegitu sempitkan dunia ini sehingga jalan keluar dari semua sengkarut hidup kita harus diselesaikan lewat kebaikan dan kemurahan orang lain? Kupikir, jika bangsa ini ingin bangkit, maka pertama-tama ia harus menguras dan mengikis habis mental-mental pengemis seperti tadi. Lalu dengan segera menggempur dan memorak-porandakan mental itu dan menggantinya dengan mental kreatif dan mandiri.

Kreativitas adalah bagian absolut dari eksistensi manusia, dan ia sudah merupakan paket (bundling) dari Allah SWT. Dengan ini, maka wajah bangsa yang senantiasa mengemis harus dirubah dengan mental kreatif, mental "nalaktak", mentak "motekar", agar kita bisa keluar dari jeratan kemiskinan, ketertindasan, ketertinggalan, dan keterjajahan orang lain.

Jika kreativitas adalah produktivitas kita, maka kemandirian merupakan output sekaligus wujud pengejawantahan mentalitas kita yang bermartabat. Pada fase ini, kita tak akan membiarkan diri kita ditindas, dijajah, diintimidasi dan diinjak-injak harga diri kita. Kita akan menjadi manusia yang disegani, dihormati, dan diperlakukan layak, baik dalam kaca mata individu, maupun dalam perspektif sosial kemasyarakatan.

Hanya sayang, kita tak pernah berfikir bahwa kita adalah raksasa yang syarat potensi, kekuatan dan peluang. Kita jarang percaya diri, sehingga ketauhidan dalam makna keyakinan laik dipertanyakan. Kita lebih percaya pada apa yang dikatakan orang lain, dalam takaran tertentu, ketimbang naluri, insting, serta kepercayaan yang ada dalam diri kita. Kita lebih rela memasrahkan diri kita diatur orang lain, ketimbang kita mengatur diri sendiri. Kita lebih asyik diberi ketimbang mencari atau memberi. Kita lebih asyik mengejar-ngejar patron atau senior kita ketimbang mencoba, memulai, atau memutuskan untuk bertahap hidup, meski sederhana dan kecil. Kita lebih enak tertawa dan disuapi, ketimbang mencari sendiri dan mandiri.

Akhirnya kita merasa hebat duduk disamping orang-orang besar, disuruh A atau B, ketimbang ia memosisikan diri sebagai raja, meski raja kecil. Saya teringan semboyan kawan saya, lebih baik menjadi kepala kucing daripada menjadi ekor gajah. Ini benar, inilah semangat membangun kualitas diri yang hebat, yang memungkinkan semua potensi yang kita miliki menjadi berarti dan bermanfaat.

Kini saatnya kita rubah, kita mulai dari diri kita, kita coba hargai diri kita secara proporsional dan percaya diri, kita dorong diri kita untuk tumbuh menjadi besar, kita hiraukan ketergantungan-ketergantungan, kita mandirikan diri kita, kita tumbuhkan kreativitas kita, meski kecil, jika itu adalah buah karya kita, maka dunia akan lebih menghargai jerih payah kita ketimbang besar tapi hasil jiplakan atau uluran tangan orang lain.

Senin, 25 Januari 2010

"Bertarung" Merebut Kursi Ketum HMI Purwakarta

“Salam. mohon doa dari kanda sekalian… Insyaallah dinda akan bertarung d arena konfercab himpunan mahasiswa islam (HMI) cabang purwakarta pada tanggal 31 januari 2010. wassalam.”

Hari ini, tanggal 25 Januari 2010 tepat pukul 12.04.12 saya mendapat sms dari seseorang. Isi sms-nya persis dengan yang saya tulis di atas. Bahkan, ejaan, tanda baca, pun persis saya translate kedalam tulisan ini. Entah karena kebetulan atau tidak, yang jelas biasanya kalau saya mengutip sms kedalam sebuah tulisan, selalu saya tulis seadanya, persis, satu pun tidak ada yang saya dirubah.

Saat ini sebenarnya saya tengah mempersiapkan pertanggungjawaban uang program kepada masyarakat sebesar Rp. 900.000.000. Ada sekitar 20 rupa laporan yang harus saya buat, termasuk RAB dan proyeksi di tahun 2010. Mendapat sms di atas, saya pending dulu itu laporan, lalu saya menulis catatan ini. Mengapa? Lantaran ada beberapa hal yang menggelitik nalar saya.

Yang menggelitik itu sebenarnya hanya dalam satu kata, “bertarung”. Bertarung? Ha..ha… Kaya pemain judo atau pesilat saja. Lima tahun silam memang saya juga pernah mengikuti ilmu bela diri pencak silat. Waktu itu di Pesantren Wanayasa. Sang pelatih selalu mengingatkan, berulang-ulang, bahwa apa yang tengah dipelajari bukan untuk benar-benar digunakan dalam “pertarungan” secara fisik, tetapi bagaimana “bertarung” melawan emosi (nafsu) kita sendiri.

Selanjutnya, “bertarung” dalam konteks di atas menjadi menarik lantaran ia bukan variabel yang independen, berdiri tanpa tautan dengan kata yang lainnya. “Bertarung” dalam sms kader tadi diembel-embeli dengan “konfercab”, “mahasiswa”, dan “Islam”.

Jelas, dalam nalar logis dan sadar, bahwa “bertarung” di atas bisa menjelaskan satu bentuk dinamika organisasi kemahasiswaan yang lahir tahun 1947 lalu itu. Namun, tendensi “bertarung” berkonotasi kurang benar, lantaran konsensus kebahasaan telah menjembatani jurang antara pemaknaan dan lahiriyah sebuah bahasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bertarung adalah proses konfrontasi fisik antara satu individu dengan individu yang lain. Dengan begitu, apa yang dikatakan oleh kader di atas, tidak relevan, mengingat korelasi verbal dengan konteks makna sesungguhnya amat jauh.

Secara kontekstual, bahwa dinamika organisasi tidak harus kemudian membentuk satu spirit baru dalam bentuk yang frustatif dan heroik, misalnya “bertarung”. Karena imajinasi “tarung” tidak sebombastis fakta sesungguhnya. Ia hanya buble, hanya gelembung linguistik yang di dalamnya disusupi semangat fanatis dan sektarian golongan atau individu. Sebab seungguhnya, apa lagi dalam lingkup internal organisasi, tidak ada lawan yang harus diposisikan di “sana”, sementara saya “di sini”. Semuanya adalah di sini dan di sana, tidak ada aku dan kau, yang ada adalah kita semua.

He…. Tetapi, empat tahun yang lalu, saya, Hasan Sidik, juga pernah mengirim sms serupa kepada para alumni dan senior, nadanya hampir persis, cuma tidak ada kata “tarungnya” saja. Lawan “tarung” (Eit, sudah ikut-ikutan pake kata tarung segala, dasar lidah! Mudah keseleo) saya waktu itu senior saya sendiri. Saya pikir waktu itu, sms demikian adalah bagian dari usaha seorang kader untuk coba mengukur kualitas diri dan bagaimana seorang calon ketua umum, apa lagi Ketua Umum HMI, bisa diterima oleh semua pihak.

Setelah perseteruan yang sengit, (eee… maaf saya juga menggunakan kata “perseteruan sengit”, padahal faktanya tidak berseteru dan tidak begitu sengit), saya terpilih sebagai Ketua Umum. Perasaan keren, bangga, hebat, jadi pemimpin gitu lhoh. Tetapi, hari-hari yang saya jalani setelah itu, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Amanah besar yang saya pikul tidak selalu dapat saya tunaikan. Berat. Banyak cercaan. Listrik sekretariat telat bayar saja jadi tema sentral para alumni dan kader-kader yang tak sepersepsi. Tapi minimal, saya bersyukur pernah merasakan bagaimana menjadi individu yang secara formalitas didaulat oleh kawan-kawan menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwakarta periode 2005-2006. (Perasaannya mendebarkan…)

Nah, ketika beberapa menit yang lalu ada kader yang sms, saya juga tergelitik. Terpikir untuk menguji nalar sendiri, menganalisis, lalu ingin mengkritik. Setelah mengkritik, jadi ingin tertawa. Ha..ha..ha.. Saya juga dulu begitu, Dinda…..! (Ala…h.. pake Kanda-Dinda segala. Amang-amangan wae meureun!).

Yakusa HMI Purwakarta, tolong gelorakan semangat perkaderan dan semangat membangun insan akademis, pencipta, pengabdi yang diridhoi Allah SWT….

Sabtu, 23 Januari 2010

Membaca Peluang Usaha

Insting pebisnis yang tajam dalam mencium peluang bisnis biasanya bisa melihat kondisi status quo, kondisi dimana orang-orang sudah terbiasa dengan sebuah kebudayaan atau perilaku. Agar status quo bisa menjadi peluang, maka pebisnis harus 'mengedukasi' para calon pelanggannya agar mereka semua mau melakukan 'transisi'. Dengan modal keuletan dan kreativitas dalam memasarkan produknya, pebisnis tersebut tentunya akan berhasil menguasai pasar.

Alkisah pada suatu waktu ada seorang pedagang baju yang datang ke sebuah desa. Setibanya di desa, dia melihat para penduduk desa tersebut badannya penuh dengan hiasan tattoo dan tidak memakai baju sama sekali.

Kecewa, dia kemudian menulis surat pada istrinya, "Istriku, tidak usah mengirimi aku stock baju untuk dijual di desa ini. Disini tidak ada peluang bisnis. Saya akan pergi ke desa lainnya."

Seminggu kemudian, datanglah pedagang baju yang lain. Dia pun melihat hal yang sama dengan pedagang sebelumnya, tidak ada seorang pun penduduk desa yang memakai baju.

Melihat hal tersebut, kemudian dia mengirim surat pada istrinya, "Istriku, saya telah menemukan pasar baru untuk barang-barang kita. Tolong siapkan baju pria, wanita dan anak-anak. Desa ini akan menjadi pasar yang sangat besar untuk usaha kita. Saya yakin usaha kita akan menjadi maju disini."

Kenapa pedagang kedua tidak segera meninggalkan desa tersebut sebagaimana halnya pedagang pertama dan malah meminta istrinya untuk menyiapkan banyak baju?

Hal yang mendorong pedagang kedua untuk tetap bertahan adalah keberaniannya untuk mengambil resiko dan keluar dari zona nyamannya. Pedagang pertama merasa tidak nyaman ketika berada di desa tersebut karena merasa tidak yakin barang jualannya akan laku terjual. Itu karena dia merasa hanya akan membuang-buang waktu saja bila dia tetap tinggal di desa tersebut, sehingga dia memutuskan untuk pergi ke desa lainnya.

Tetapi hal yang paling membedakan pada kedua pedagang tersebut adalah dalam hal ketajaman dalam penciuman peluang bisnis. Pedagang pertama hanya mampu melihat 'kue' yang sudah terletak di atas meja, sedangkan pedagang kedua mampu melihat 'kue' yang masih tersembunyi. Padahal apabila 'kue' sudah terletak di atas meja, maka akan banyak orang yang punya keinginan untuk memiliki atau setidaknya mendapat bagian dari kue tersebut. Sedangkan kue yang masih tersembunyi tentunya hanya akan dinikmati oleh orang yang menemukan kue tersebut, orang lain hanya akan mendapat sisa atau remah-remahnya saja.

Seorang yang tajam dalam mencium peluang bisnis biasanya bisa melihat kondisi status quo, kondisi dimana orang-orang sudah terbiasa dengan sebuah kebudayaan atau perilaku. Pedagang kedua berani 'menantang' budaya orang desa tersebut dan menawarkan baju pada penduduk desa.

Untuk memperlancar usahanya, pedagang kedua tentunya harus 'mengedukasi' para calon pelanggannya agar mereka semua mau melakukan 'transisi'. Dengan modal keuletan dan kreativitas dalam memasarkan dagangannya, pedagang kedua tersebut tentunya akan berhasil menguasai pasar pakaian di desa tanpa baju tersebut.

Sepertinya memang berat, tetapi tentu hasilnya akan sesuai dengan usaha yang telah dikeluarkan.

Di era yang semakin kompetitif dan informasi yang sudah tersedia, sekarang mana yang akan Anda pilih, kue yang sudah ada di atas meja atau yang masih tersembunyi? Kalau Anda memilih kue yang ada di atas meja, siapkan sumber daya Anda sebaik mungkin untuk bertarung dengan para kompetitor. Bila Anda memilih untuk mencari kue yang masih tersembunyi, carilah kondisi status quo, dan rubahlah kondisi tersebut ke arah yang Anda inginkan!


(By Adhi Nugroho)

Selasa, 01 Desember 2009

Bertahan Hidup Dengan Poduktivitas dan Kerja Keras

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh manusia untuk mempertahankan hidupnya di dunia ini, baik dari segi mental maupun material. Soal harga diri, soal citra dan reputasi, ini menjadi kebutuhan puncak jika kita kaitkan dalam piramida kebutuhan manusia. Manusia akan mempertahankan sedemikian rupa jika sudah menyangkut harga diri dan kehormatan. Beberapa hari yang lalu kita lihat rombongan elit di Jakarta, Hatta Rajasa dkk. melaporkan dugaan pencemaran nama baik mereka oleh salah seorang demonstran. Mereka tak terima dituding yang bukan-bukan, apa lagi tudingan itu akan meruntuhkan citra dan reputasi mereka sebagai pejabat tinggi negara.
Sementara soal material, tidak sedikit dari kita yang terus banting tulang untuk mengais karunia Tuhan, melalui usaha-usaha kreatifnya, mungkin juga sesuai naluri atau instingnya. Insting atau naluri menjadi daya dorong vital bagi manusia untuk melakukan apapun demi mencukupi kebutuhan hidupnya, terutama dari sisi materi. Fakta ini sejalan dengan sejarah kemanusiaan kita, terutama jaman pra sejarah yang menampilkan lakon manusia lewat instrumen primitif, tetapi subtansinya hampir sama, mereka mengikuti apa yang dikatakan oleh kata hati mereka.
Sayang, dua uraian di atas kadang tidak demikian adanya. Manusia yang sudah dibekali akal fikiran untuk bertahan di rimba semesta ini, kadang tidak mendayagunakannya sedemikian rupa. Malah yang banyak adalah aktivitas-aktivitas pasif, tidak roduktif, dan hanya berharap dari yang lain. Padahal, instrumen akal adalah modal utama manusia untuk mempertahankan diri dari kehidupan serta segala persoalan di dalamnya.
Tidak usah kaget jika ada manusia yang coba dengan sekuat tenaga menguras pikiran, energi, keringat, dan ototnya demi sesuap nasi. Buruh-buruh kasar tak pernah mengenal teriknya mentari. Mereka siap dipanggang oleh kenyataan pahit, bahwa mereka harus tetap eksis, apapun caranya. Tetapi di sisi lain, ada juga manusia yang hanya ongkang-ongkang kaki, duduk di kursi, melamun, lalu tidur pulas seolah tanpa beban. Entah dari mana mereka mencukupi kebutuhan hidupnya. Mungkin bisa pinjam, punya warisan, disupply oleh orang tua, kerabat, atau bahkan patner hidupnya.
Hanya persoalan cara, kadang orang dihadapkan pada norma-norma dan moralitas. Ada batasan etis dan estetis yang mesti menjadi rambu-rambu. Artinya tidak semua cara kita lakukan, tetapi lakukan apapun yang dapat dilakukan, selagi dalam koridor etis, tidak merugikan orang lain, dan bukan perbuatan amoral yang merugikan tatanan keadilan serta kewibawaan martabat manusia. Jelas produktivitas dan aktivitas yang mesti kita pacu sekuat dan sekeras tenaga itu ada dalam bingkai moralitas. Tidak melanggar aturan hukum, tidak melanggar kode etik, estetika, dan aturan moral. Seperti korupsi, menyuap, memeras, atau mencuri. Cuma sepintas lalu soal korupsi ini produktivitas yang amoral, orang memiliki keinginan, tetapi dengan cara-cara yang bejat.
Dalam kaitan ini saya menemukan fenomena unik dan menarik. Kadang orang-orang di pelosok, mereka mempertahankan hidup benar-benar paripurna. Mereka menguras pikiran, keringat, tenaga, juga otot-ototnya. Mereka melakukan, meski itu berat dan terkesan kumuh, yang penting halal. Di sebuah desa saya menemukan seorang nenek tua yang tengah memecah batu untuk dibuat potongan batu split. Entah seberapa signifikan pekerjaan seberat dan sekasar itu mencukupi kebutuhan dan tuntutan hidup mereka. Tapi mereka ikhlas, ridho, walau kecil asal halal dan baik.
Saya pikir menarik dicermati, suatu pagi, masih pagi buta, segerombolan anak muda nongkrong di sisi jalan, memetik gitar, lalu tertawa terbahak. Semiskin itukah produktivitas dan daya pikir mereka. Padahal menurut sebuah hadits, pagi adalah pintu dimana rizki dan karunia Tuhan dibuka selebar-lebarnya. Jika kesadaran fundamental tentang pentingnya kerja keras dan produktivitas, saya pikir malas-malasan akan menjadi muuh utama hidup kita, generasi baru di milenium ini. Nenek-nenek renta saja masih sanggup mengayunkan palu untuk membelah batu, apakah kita secengeng ini?

Sabtu, 21 November 2009

MENGABDI ATAU KULI?

Hari Ahad besok, 22 November 2009 mungkin merupakan hari yang mendebarkan bagi kawan-kawan kita yang akan mengikuti Tes CPNS di Kabupaten Subang. Pasalnya, mereka sejak jauh-jauh hari telah menunggu kesempatan emas tersebut. Ketika edaran tes itu muncul, mereka yang berminat untuk mengikuti tes tersebut disibukkan oleh berbagai aktivitas, mulai dari membuat lamaran, membuat kartu kuning (kartu pencari kerja), membuat surat kelakuan baik, meminta SK mengajar, sampai menyiapkan amplop surat, perangko balasan, dan mengirimkannya ke PT POS. Mereka juga menghitung budget, baik untuk persyaratan maupun untuk transportasi.
Setelah semua persyaratan mereka lengkapi dan dikirimkan melalui POS, beberapa hari kemudian mereka disibukkan oleh berbagai aktivitas lain. Mulai dari membaca buku psikotes, contoh-contoh soal Tes CPNS, dan berbagai materi lain, baik yang didapat dari meminjam ataupun mencari-cari di internet. Tak hanya disitu, psikologis mereka juga dihantui oleh harap-harap cemas, apakah lamaran mereka diterima dan mendapat balasan atau tidak ada kabar sama sekali. Saat-saat ini pun begitu mendebarkan. Mereka tak enak duduk. Mereka bertanya ke Tukang POS, ke teman-teman guru yang lain, dan ke siapa saja yang dikira pantas untuk ditanya. Apa yang terjadi setelah penantian yang lumayan menyita kejiwaan mereka?
Jika mereka mendapat balasan dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) berupa undangan untuk tes disertai kartu tes, tempat dan nomor, mereka sedikit gembira. Tetapi yang lebih menjadi beban adalah, apakah melalui tes nanti nasib mereka akan berubah dari sebelumnya? Ini yang lebih menekan kejiwaan lagi.
Apa lagi menjelang tes semacam itu selalu ada rumor jual beli, uang pelicin, atau ketidaktransfaransian dari para pejabat terkait. Ini tentu tambahan pikiran yang harus ditanggung oleh mereka para pelamar. Tapi dari semua rangkaian penuh dinamika itu, akhirnya mereka akan datang pada waktunya, membawa pensil 2B, penghapus, juga sekantong harapan, bahwa setelah tes nanti mereka akan hidup dalam dunia yang baru, dunia dimana dirinya sebagai pendidik benar-benar paripurna dalam menyebarkan pengetahuan dan moralitas kepada calon-calon generasi masa depan. Penulis berharap, setiap harapan manusia, termasuk para peminat CPNS, agar dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa...

Beberapa Fakta
Hanya ada hal yang menggelitik penulis, terutama setelah mencermati berbagai fenomena dan fakta di lapangan. Misalnya, opini yang ditulis oleh salah seorang pemerhati pendidikan, Ki Supriyoko, di harian Kompas tanggal 20 November 2009, bahwa kesejahteraan guru itu tidak lantas meningkatkan prestasi murid-muridnya. Padahal, motip awal para guru meningkatkan kesejahteraan, baik melalui tes CPNS ataupun sertifikasi, adalah agar mereka konsentarasi dalam menggodok anak didiknya. Hasil survei, hanya sedikit efek yang diterima murid dari sejahteranya guru. Padahal, beberapa kalangan selalu mengeluh, bagaimana bisa mengajar dengan baik kalau kesejahteraan guru diabaikan oleh pemerintah?
Kemudian soal sertifikasi. Ada beberapa kalangan yang menilai bahwa proses sertifikasi itu juga faktanya tidak lantas meningkatkan kompetensi guru. Padahal, seyogyanya program tersebut bisa memacu para guru agar berprestasi, memiliki kemampuan lebih, dan dapat meningkatkan prestasi para siswanya. Yang terjadi adalah, para guru berbondong-bondong menyusun portofolio atau mengikuti berbagai diklat, meski ia juga menelantarkan kewajiban sakralnya yaitu mengajar, demi mendapat sertifikat. Setelah itu mereka berharap mendapat gaji yang setara, jika ia bukan PNS, atau menjadi berlipat jika ia PNS.

Mengabdi atau Kuli?
Tiga kata ini lahir bukan dari pikiran saya sendiri, meski subtansinya sama dengan yang selama ini saya pikirkan. Ketika hujan mulai reda, saya dengan kawan, atau apalah sebutan yang layak baginya, berbincang santai sambil berseloroh, dan sesekali bersenda gurau. Ia adalah seorang penyuluh Departemen Agama di Kecamatan Kiarapedes-Purwakarta. Ia jebolan perguruan tinggi dengan basis keilmuan syari'ah. Pada waktu itu masuk dalam topik tes CPNS. Pertama-tama ia mengkritisi agar saya selalu tawadhu dalam memandang status PNS. Pasalnya, selama ini saya selalu antipati terhadap status semacam itu. Atau bahasa lainnya, saya tidak berminat, dan disampaikan dalam bahasa yang mungkin agak radikal. Ia menyarankan, apalagi saya masih muda, agar hidup di jalur tengah, mempersiapkan segala sesuatu, termasuk jika ada peluang, jangan pernah menunda kesempatan. Ngobrolnya tidak berujung. Saya selalu membantah, berkelit, dan membalas konsepnya.
Akhirnya ia berkata, "ya udah, niatnya jangan untuk mengabdi atau apapun pada negara, niatkan saja menjadi PNS itu sebagai kuli". Sebab menurutnya, demi apa kita harus mengabdi pada negara, kalau toh kenyataanya kita semua berharap banyak dari negara. Bohong besar ketika banyak orang menyebut bahwa jiwa raganya dipersembahkan untuk agama, bangsa dan negara. Faktanya, mereka lebih banyak meminta, berharap, bahkan mengeksploitasi dari negara. Jika benar mereka memiliki semangat pengabdian, mereka tidak pernah akan protes ketika negara mengalami defisit, dan negara hanya membayar separuh gaji pegawainya. Faktanya, banyak para guru yang berbondong-bondong turun ke jalan demi menuntut transportasi, kenaikan gaji, atau apapun dalihnya. Termasuk para menteri juga ramai-ramai ingin gajinya dinaikan. Apa makna dari semua ini? Dimana kita memosisikan kata "mengabdi" itu implementasinya?
Yang ada kita itu menjadi karyawan negara, lalu berkedok dibalik pengabdian, padahal sebenarnya kita sedang memperhitungkan sekecil apapun keringat kita yang telah mengucur akibat aktivitas kenegaraan kita, demi uang, demi kesejahteraan, demi kehidupan individualistik kita sendiri.
Maka saya sependapat dengan penyuluh agama itu, bahwa saat ini kita tengah kuli, seperti tukang kuli lainnya, kepada negara dengan identitas kita sebagai pegawai negeri yang dalam pasal-pasal kepegawainnya dicantumkan diktum pengabdian yang wajib dilakukan oleh para pegawainya terhadap negara.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Merebaknya "Ilmu Sapi"

Kebanyakan dari kita menganut “ilmu sapi”, istilah Sunda yang dialamatkan kepada orang yang hidup bergantung pada bagaimana angin bertiup. Mafhum, kondisi ini lantaran pengaruh lingkungan sosial begitu kental dalam memengaruhi perilaku kita. Tetapi saya menyadari, setelah mengkaji berbagai literatur, bahwa kesuksesan itu terletak dari keinginan yang kuat untuk melakukan apa yang orang lain tidak lakukan.

Sebagai orang yang tidak memiliki “pekerjaan”, setiap minggu saya menyempatkan waktu sebanyak 12 jam pelajaran x dua hari untuk berbagi dengan adik-adik saya di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Ketika istirahat, dalam suatu waktu saya dipanggil oleh salah seorang TU sekolah. Ternyata mengisi formulir, entah untuk apa. Setelah saya tanya, formulir itu untuk isian sertifikasi.

Sertifikasi? Saya kaget bukan main. Sebab, saya tidak memiliki ketertarikan untuk mengikuti ritual-ritual semacam itu. Kenapa? Bukan lantaran saya sombong, tetapi saya tidak ingin menyandarkan hidup saya pada posisi-posisi semacam itu. Saya selalu bilang pada teman-teman, saya tak berminat untuk jadi PNS, sebuah profesi yang sangat disakralkan di lingkungan sosial kita. Apalagi sertifikasi? Yang saya inginkan adalah berbagi dengan adik-aik saya secara paripurna. Itu saja.

Selain itu, saya juga punya pertimbangan lain. Berangkat dari peristiwa menyedihkan selepas lulus kuliah, saya menenteng map berisi lamaran kerja kemana-mana. Ke Bandung, Jakarta, Bekasi, dll. Tidak satupun saya diterima di perusahaan yang saya lamar. Saya bertanya, apa yang kurang dari saya (tidak bermaksud sombong)? Padahal, bicara fasih, pakaian necis, mantan aktivis di organisasi, bisa menulis, bisa presentasi, hanya saya tidak punya pengalaman. Tidak punya referensi.

Setelah itu, saya memutuskan tak ingin menjadi karyawan, pegawai, atau bahkan PNS. Saya harus menjadi diri yang kreatif, hidup mengandalkan kemauan, keyakinan, keuletan, kegigihan, serta kreativitas diri. Lalu saya coba-coba berbagai aktivitas, mulai menulis di koran yang tak pernah dimuat, berjualan, membuka kursus komputer, bisnis MLM, ternak ikan, ternak kambing, “ngorder” berbagai peralatan dan barang cetak, serta kini membuka jasa pelayanan masyarakat berupa tempat pembayaran tagihan rekening listrik, telepon, dan cicilan lainnya. Selain itu, saya juga tengah merintis bertanam kayu, jual beli elektronik dan servis, serta aktif juga di kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Saya sadar, bahwa jika saya melakukan seperti kebanyakan orang lain melakukan, saya akan termarginalkan. Saya akan mati di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Sejak saat itu sya memutuskan, akan melakukan apapun yang tidak dilakukan oleh orang lain. Kalau orang-orang berbondong-bondong untuk tes PNS, biarlah itu orang lain, dan saya tidak akan melakukan. Justru saya akan melakukan yang tidak dilakukan orang lain, meskipun itu tidak popuer.

Apa yang harus kulakukan? Apa saja, terutama yang berkaitan dengan dunia usaha, wirausaha, wiraswasta, dan hal-hal lain yang tidak digandrungi kebanyakan orang. Mengapa? Sebab secara logika, di sini tidak banyak saingan, dan kita bisa dengan lebih cepat mencapai puncak. Soal jaminan masa depan? Saya yakin, di dunia ini tidak ada jaminan.

Oleh karena itu, “ilmu sapi” ini menjadi isnpirasi bagi saya, bahwa hanya orang-orang yang tidak memiliki identitas, karakter, serta kreativitaslah yang selalu mengikuti arah angin, keguyuban, serta popularitas kekinian. Padahal, kesuksesan selalu hadir dari kebalikannya.

Dan sebagai informasi, hanya 6 % mantan mahasiswa di seluruh Indonesia yang terjun ke dunia usaha, dunia yang secara totalitas mengandalkan kemampuan, kegigihan, keberanian, spekulasi, serta keuletan dan kesabaran, termasuk kompetensi, kualitas dan dan keyakinan. Berarti lahan ini masih kosong, siapapun bisa memberdayakannya untuk kemaslahatan hidup diri, keluarga dan masyarakat kebanyakan.

Selamat menempuh hidup yang berbeda, tidak populer, dan kurang direstui oleh orang tua serta keluarga kita, termasuk calon pendamping hidup. Siapkan mental, bendung air mata, dan buktikan pada dunia bahwa apa yang tidak dilakukan oleh yang lain bisa menjadi sumber kekayaan, keberkahan dan kebahagiaan hidup kita di kemudian hari.

Selamat berkarya...

Belajar Komputer

belajar-ilmu-komputer.blogspot.com

Mengenai Saya

Foto saya
Purwakarta, Jawa Barat
Lahir di Purwakarta, 21 Pebruari 1983. Pernah singgah di STIE Dr. KHEZ Muttaqien Purwakarta jurusan Manajemen SDM. Pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwakarta sebagai Ketua Umum periode 2005-2006. Kini kegiatan sehari-hari mengabdi kepada masyarakat lewat PNPM Mandiri Perdesaan, sebagai Ketua UPK Kec. Kiarapedes Purwakarta. Aktif juga mengajar TI di MTs YPMI Wanayasa, Membuka Kursus Komputer serta Jasa Pelayanan Masyarakat di Bidang TI. Sekarang tengah merintis usaha di bidang pertanian dan peternakan. Selain itu untuk konsumsi pribadi, tengah giat menulis novel. Satu nivel telah selesai dan sekarang tengah mencari penerit untuk menerbitkan novel tersebut.

Kurs

Berita Artis

script type="text/javascript"> kb_content = 'celebrity';

Berita Terkini